
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Konsistensi dalam belajar menjadi modal bagi Mohammad Habibullah Zaini Yuko untuk melangkah ke jenjang pendidikan tinggi. Di usianya yang menginjak 16 tahun, remaja asal Gresik ini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Program Studi S-1 Teknik Sipil melalui jalur SNBP 2026.
Perjalanan akademik Yuko—sapaan akrabnya—mencerminkan tekad dan kemandirian yang terbentuk sejak dini. Menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Yuko terbiasa dengan ritme belajar yang terstruktur dan disiplin. Melalui program percepatan, ia berhasil menyelesaikan jenjang menengahnya dengan baik, membuktikan bahwa fokus dan manajemen waktu adalah kunci dalam menghadapi tantangan akademik.
"Lingkungan pesantren sangat membantu saya untuk tetap fokus. Dukungan orang tua, guru dan teman-teman membuat proses belajar yang padat terasa lebih bermakna. Saya belajar bahwa setiap usaha yang sungguh-sungguh pasti akan menemukan jalannya," ungkap anak tunggal pasangan Ahmad Kholil dan Yulia Wahyuni ini.
Kepekaan Sosial terhadap Infrastruktur
Ketertarikan Yuko pada Teknik Sipil lahir dari pengamatannya terhadap lingkungan sekitar sejak masa kecil. Sering melihat kondisi bangunan dan infrastruktur di daerahnya yang kerap rusak dan memerlukan perbaikan, muncul keinginan dalam dirinya untuk mendalami ilmu rancang bangun.
Baginya, kuliah di Teknik Sipil adalah jalan untuk memberikan kontribusi nyata bagi keamanan dan kenyamanan fasilitas publik di masa depan. Meski sempat mendapatkan saran untuk memilih bidang lain, Yuko tetap teguh pada pilihannya semula. Kepercayaan diri ini didukung penuh oleh kedua orang tuanya yang memberikan kebebasan bagi Yuko untuk tumbuh sesuai dengan minat dan potensinya.
Nur Holili Arif Syahri, salah satu gurunya, melihat Yuko sebagai sosok pelajar yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. "Yuko adalah tipe siswa yang gigih. Jika menemui materi yang sulit, ia tidak segan untuk terus mencoba dan bertanya hingga benar-benar paham. Kedisiplinannya di kelas sangat menonjol," kenangnya.
Restu Orang Tua dan Kesederhanaan
Di balik pencapaiannya, doa dan kerja keras orang tua menjadi pilar pendukung utama. Sang ibu, Yulia Wahyuni, berharap putranya dapat menjalani masa perkuliahan dengan fokus dan tetap rendah hati. Meski hidup dalam kesederhanaan, ia berkomitmen memberikan dukungan terbaik agar Yuko dapat belajar dengan tenang.
"Kami selalu berpesan agar ia tidak meninggalkan nilai-nilai adab yang didapat dari pondok. Sukses itu bagi kami adalah saat dia bisa menjaga salatnya dan ilmunya bermanfaat untuk orang banyak," tutur sang ibu penuh harap.
Kini, Yuko siap memulai perjalanannya di Kampus Lidah Wetan. Kepada rekan-rekan pelajar lainnya, ia menitipkan pesan sederhana tentang pentingnya ketekunan. "Teruslah belajar dengan tekun dan lakukan yang terbaik, karena setiap usaha yang tulus akan mendapatkan hasil yang sebanding," pungkasnya. ][
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Mohammad Habibullah Zaini Yuko
Share It On: