
Unesa.ac.id., SURABAYA—Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi tuan rumah Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Jawa Timur (Jatim) sekaligus Seminar Penguatan Ekonomi Pesantren pada Senin, 27 Oktober 2025.
Moch. Khoirul Anwar selaku Wakil Dekan I Bidang Pembelajaran, Penelitian, Pengabdian, Mahasiswa, dan Alumni, FEB, Unesa menyampaikan bahwa agenda ini merupakan upaya untuk membawa ekonomi syariah agar semakin mendunia.
"Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi kita untuk memperkuat sinergi mendorong penguatan ekonomi masyarakat," ungkap dosen yang juga mengemban amanat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) IAEI Jatim itu.
Kegiatan ini dibuka oleh Iskandar Ritonfa, selaku Ketua IAEI Jawa Timur. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi antar-lembaga di wilayah Jawa Timur.
“Kita berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk memperkuat seluruh pihak di Jawa Timur agar terus berikhtiar dan ikhlas memajukan ekonomi Islam menjadi sistem ekonomi yang lebih baik dan berkeadilan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa DPW IAEI Jatim merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia, baik dari segi keanggotaan maupun aktivitasnya. Dalam beberapa tahun terakhir, IAEI Jatim bahkan telah memperoleh penghargaan dari pengurus pusat atas kiprahnya dalam mendorong pengembangan ekonomi syariah di berbagai sektor.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Sri Herianingrum selaku Wakil Ketua II DPW IAEI Jatim dan Setiawan Bin Lahuri selaku Wakil Ketua V DPW IAEI Jatim yang memaparkan perspektif mendalam terkait isu ekonomi global, ekoteologi, dan peran pesantren dalam ekonomi hijau.
Sri Herianingrum selaku Wakil Ketua II DPW IAEI Jatim, menyoroti berbagai tantangan ekonomi dunia seperti krisis global, perubahan iklim, kemiskinan, hingga budaya konsumerisme yang masif.
Dampak dari krisis lingkungan tidak hanya menyangkut kerusakan alam, tetapi juga memberi efek domino terhadap perekonomian, terutama bagi negara-negara berkembang yang belum memiliki sistem mitigasi kebijakan jangka panjang.
“Negara-negara berkembang bisa mengalami dampak ekonomi hingga sepuluh kali lipat lebih besar dibanding negara maju, karena mereka belum sepenuhnya menerapkan kebijakan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, guru besar ilmu ekonomi Universitas Airlangga (Unair) itu menekankan terkait pentingnya penerapan Ekoteologi dan Ekonomi Hijau dalam konteks Islam. Menjaga kelestarian lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab spiritual manusia kepada Tuhan dan sesamanya, sejalan dengan nilai khilafah sebagai pengelola bumi serta prinsip amanah dan hidup sederhana.
“Moderasi dalam konsumsi adalah kunci. Islam mengajarkan kita untuk menggunakan sumber daya secukupnya, sesuai kebutuhan hidup,” paparnya.
Menurutnya, konsep ekonomi hijau tidak dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara lembaga zakat, akademisi, dan pesantren untuk menciptakan keberlanjutan yang nyata.
Sementara itu, Setiawan Bin Lahuri selaku Wakil Ketua V DPW IAEI Jatim menyoroti besarnya potensi pesantren sebagai penggerak ekonomi hijau di Indonesia. Berdasarkan data, terdapat sekitar 43 ribu pesantren dengan lebih dari 11 juta santri yang dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial dan lingkungan.

Menurutnya, wakaf produktif dan keuangan sosial Islam dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat, terutama bila dikelola secara profesional dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri oleh 55 komisariat IAIE Jatim, pengurus wilayah IAEI seluruh Jatim, Koordinator Prodi (Koorprodi) selingkung FEB, dosen selingkung Program Studi (Prodi) S1 dan S2 Ekonomi Islam, juga delegasi mahasiswa FEB Unesa.
Najwaa Amelia Putri, selaku mahasiswi semester 1, Prodi S1 Akuntansi Unesa turut mengukapkan antusiasmenya. Menurutnya kegiatan-kegiatan seperti ini memberikan banyak manfaat terutama bagi mahasiswa baru sepertinya.
"Senang sekali bisa dapat ilmu dan teman baru. Selain itu jadwal kegiatan yang dilaksanakan di hari kerja (bukan akhir pekan) juga sangat membantu saya. Semoga kedepannya lebih banyak kegiatan serupa," tuturnya. ][
***
Reporter: Diva Novana Widia Putri (FEB)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






