
Reni Ambarwati, S.Si., M.Sc., dosen sekaligus Koordinator Program Studi S-1 Akuakultur, Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Unesa.ac.id. SURABAYA—Fenomena pembasmian massal ikan sapu-sapu (Sucker Mouth Catfish) di sejumlah kota belakangan ini memicu perhatian publik. Spesies invasif ini dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem perairan tawar karena kemampuannya mendominasi habitat dan merusak keseimbangan lingkungan.
Koordinator Program Studi S1 Akuakultur, Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Reni Ambarwati menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki daya adaptasi dan tingkat reproduksi yang sangat tinggi. Hal inilah yang membuat mereka mudah menggeser populasi ikan lokal.
“Ikan ini mampu bertahan di kondisi perairan tercemar dan kadar oksigen rendah. Struktur tubuhnya yang dilindungi pelat tulang tebal serta minimnya predator alami membuat populasinya berkembang tanpa kendali,” jelas Reni.
Reni menyoroti kondisi sungai di Surabaya dan sekitarnya yang semakin rentan. Menurunnya kualitas air akibat pencemaran justru menjadi "karpet merah" bagi ikan sapu-sapu untuk berkembang, sementara ikan lokal perlahan menghilang.
Selain mendesak populasi ikan asli, kehadiran ikan sapu-sapu juga berdampak pada kerusakan fisik lingkungan. Kebiasaan mereka membuat lubang di dinding sungai untuk bertelur dapat mempercepat pengikisan dan kerusakan struktur bantaran sungai.
“Ketika kualitas air menurun, ikan lokal terganggu, namun ikan sapu-sapu justru mendominasi. Jika dibiarkan, keanekaragaman hayati kita akan menurun drastis,” tambahnya.
Terkait potensi pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai produk olahan, Reni memberikan peringatan keras. Mengingat habitatnya yang sering berada di perairan tercemar, ikan ini berpotensi tinggi mengakumulasi logam berat dalam tubuhnya.
"Perlu kajian mendalam dan sangat berisiko jika langsung diolah untuk konsumsi tanpa memastikan keamanan pangannya dari cemaran logam berat," tegasnya.
Reni juga menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat tidak sembarangan melepasliarkan ikan peliharaan ke alam. Fenomena spesies invasif seperti ikan sapu-sapu, ikan aligator, hingga red devil sering kali bermula dari pelepasan ikan hias oleh pemiliknya.
Meskipun pembasmian massal dapat menjadi solusi jangka pendek, Unesa mendorong pendekatan yang lebih berkelanjutan melalui perbaikan kualitas perairan dan penegakan regulasi. Lingkungan perairan yang sehat akan mendukung kembalinya ekosistem ikan lokal yang alami.
Pengendalian spesies invasif bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif. Melalui kesadaran untuk tidak melepas ikan invasif dan menjaga kebersihan sungai, keseimbangan ekosistem perairan Indonesia diharapkan dapat terjaga demi masa depan ketahanan pangan nasional.
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Share It On: