
Unesa.ac.id. SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Unesa Global Engagement bersama Asean Council of Physical Education and Sport (ACPES) menggelar workshop internasional bertajuk “How to Plan, Enact and Evaluate Value and Life Skills-Based PE and Sports Programme Supported by Technology and AI” pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Kegiatan yang dimoderatori Chiedel San Diego, pakar dari Filipina, ini dilaksanakan secara daring melalui kanal YouTube Official Unesa dengan mempertemukan para dosen dan pendidik olahraga dari berbagai universitas untuk membahas rancangan hingga evaluasi program olahraga berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Pimpinan ACPES, Dr. Zason Chian, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Unesa atas terselenggaranya acara ini. Ia menjelaskan bahwa adopsi teknologi modern ke dalam dunia pendidikan merupakan hal yang terjadi secara alami, termasuk dalam lanskap Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Menurutnya, ada banyak diskusi yang telah terjadi di kehidupan sehari-hari di berbagai industri, mulai dari dunia finansial, yang melihat bagaimana AI dapat membantu pekerjaan manusia. Oleh karena itu, hal ini masuk ke dalam lanskap pendidikan secara sangat alami di berbagai disiplin ilmu.
“Jadi, sekarang teknologi ini masuk ke lingkungan PJOK. Karenanya, banyak dari kita yang mengajukan pertanyaan seperti bagaimana cara melakukannya? Dan saya berharap lokakarya hari ini dapat menjawab beberapa dari pertanyaan dan tantangan kita saat ini dan ke depan,” ucapnya.

Pada sesi materi, Koh Koon Tech dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura menyoroti sejumlah tantangan nyata yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari masalah obesitas, tingginya durasi menatap layar gawai (screentime) pascapandemi, hingga dinamika lingkungan sosial. Menurutnya, mata pelajaran PJOK memiliki tanggung jawab besar yang tidak hanya membangun fisik manusia, tetapi juga membentuk nilai kehidupan secara utuh.
“PJOK dan olahraga bukan hanya tentang mempromosikan gaya hidup sehat, tetapi bagaimana kita mengembangkan seseorang secara utuh melalui penanaman nilai-nilai karakter dan life skills," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena tindakan tidak suportif (unsportmanlike) yang kerap terjadi dalam pertandingan. Oleh karena itu, pengajaran nilai seperti empati, integritas, dan rasa hormat harus diimplementasikan secara konkret dalam ajang olahraga.
Ia mencontohkan, nilai komunikasi dapat diajarkan langsung saat latihan serangan cepat (fast break) dalam olahraga bola basket, di mana pemain dilatih untuk saling memberikan instruksi secara verbal. Nilai-nilai lapangan inilah yang nantinya menjadi bekal interaksi sosial siswa di ruang kelas maupun di tengah masyarakat luas.
Selain penguatan karakter, hal menarik yang dibahas ialah penggunaan AI dalam mengevaluasi aktivitas olahraga. Koh Koon Tech menunjukkan bagaimana AI mampu merancang target pembelajaran hingga manajemen durasi latihan hanya melalui beberapa kata kunci. Salah satu sistem yang diperkenalkan adalah Coach Observation Tool (COT), aplikasi berbasis AI yang bekerja dengan cara menganalisis rekaman video aktivitas olahraga yang diunggah pengguna. Sistem kemudian akan mengeluarkan laporan observasi detail berupa diagram dan ringkasan analisis yang meliputi analisis performa, analisis kekuatan, hingga strategi perbaikan mutu latihan.
***
Reporter: Aldian Lukmanul Hakim (Fisipol)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






