
Unesa.ac.id. SURABAYA—Krisis iklim, transisi energi, disrupsi teknologi, hingga tuntutan industri yang semakin berorientasi pada keberlanjutan menempatkan pendidikan vokasi pada babak baru. Perguruan tinggi tidak lagi cukup menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga dituntut melahirkan inovasi terapan yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat dan dunia industri.
Hal itulah yang menjadi benang merah The 3rd International Conference on Aligning Sustainability with Vocational Innovation (ICASVI) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara hybrid di Ballroom Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya, Minggu, 2 Agustus 2026.
Forum internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk berbagi gagasan mengenai inovasi yang dapat diterapkan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Mengusung tema Applied Innovation for Sustainable Impact, konferensi membahas berbagai solusi mulai dari desain digital ramah lingkungan, infrastruktur hemat energi, sistem produksi sirkular, hingga pengembangan mobilitas cerdas. Beragam isu tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi kini berperan sebagai ruang lahirnya inovasi yang menjawab tantangan global sekaligus kebutuhan masyarakat.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Unesa, Dwi Cahyo Kartiko menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif sekaligus mampu menghasilkan solusi yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Konferensi ini menjadi ruang untuk bertukar ide, memperkuat kemitraan internasional, serta mengembangkan solusi praktis bagi pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan komitmen Unesa dalam memperkuat internasionalisasi, riset berkualitas, dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada transformasi digital, ICASVI tahun ini mengangkat isu keberlanjutan sebagai respons terhadap perubahan tantangan global. Menurut Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Suprapto, tema konferensi selalu disesuaikan dengan perkembangan isu strategis agar pendidikan vokasi tetap relevan dengan kebutuhan dunia.
“Melalui konferensi ini kami ingin membangun ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara sehingga pendidikan vokasi dapat terus berkembang mengikuti perubahan yang terjadi,” paparnya.

Agenda akbar ini menghadirikan lima pembicara utama dari Malaysia, Inggris, Australia, Taiwan, dan Indonesia; Prof. Ts. Dr. Mariyam Jameelah Ghazali, guru besar University Kebangsaan Malaysia (UKM); Dr. Stavros Michailos dari The University of Hull, United Kingdom; Prof. Dr. Stephen Billett dari Griffith University, Brisbane, Australia; Prof. Shyh-Huei Hwang, Ph.D., dari National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan; dan Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Pembicara menghadirkan beragam perspektif mengenai masa depan inovasi berkelanjutan. Pembahasan meliputi efisiensi energi melalui pengembangan tribologi, strategi dekarbonisasi berbasis teknologi penangkapan karbon dan hidrogen rendah karbon, penguatan pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perubahan dunia kerja, hingga pelestarian budaya lokal melalui pendekatan keberlanjutan.
Forum juga membahas pentingnya transformasi pendidikan vokasi agar mampu merespons percepatan perkembangan teknologi digital, kebutuhan industri hijau, serta tantangan perubahan iklim.
Gagasan-gagasan tersebut kemudian diperdalam melalui sesi paralel yang menghadirkan berbagai hasil riset mengenai Internet of Things (IoT), desain cerdas, rekayasa perangkat lunak, praktik pembangunan yang inklusif, hingga tata kelola berkelanjutan. ][
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






