
Unesa.ac.id., SURABAYA—Bagi Riski Ramadani, penelitian tidak berakhir ketika hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Justru dari sanalah riset harus mulai memberi manfaat yang lebih luas melalui inovasi, hilirisasi, dan penerapan yang dapat dirasakan masyarakat maupun dunia industri. Gagasan tersebut mewarnai perjalanan akademik lulusan perdana Program Magister (S-2) Fisika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Selama menempuh studi, ia tidak hanya aktif menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mengembangkan hak kekayaan intelektual, membangun perusahaan rintisan berbasis teknologi, hingga memperluas jejaring penelitian di tingkat nasional dan internasional.
Selama menjalani pendidikan magister di bawah bimbingan Rohim Aminullah Firdaus dan Muhimmatul Khoiro, Riski berhasil menghasilkan 17 artikel ilmiah yang terindeks Scopus pada jurnal internasional bereputasi kategori Q2 hingga Q4. Selain itu, ia juga menerbitkan tiga artikel pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 hingga SINTA 4.
Produktivitas riset tersebut tidak berhenti pada publikasi. Ia menghasilkan dua Hak Kekayaan Intelektual (HKI), terlibat dalam penulisan dua buku ber-ISBN, serta mendirikan dua badan usaha berbentuk Commanditaire Vennootschap (CV) dan satu perusahaan rintisan (startup) sebagai bagian dari upaya menghilirkan hasil penelitian agar memiliki nilai tambah dan manfaat yang lebih luas.
"Saya percaya bahwa penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah atau hanya menjadi referensi di dunia akademik. Tujuan saya adalah mendorong hasil-hasil riset agar dapat dihilirisasikan dan dikomersialisasikan secara bertanggung jawab sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan dunia industri," ujarnya.
Komitmen tersebut juga membawanya memperoleh penghargaan Winner Young Leaders for Asia Challenge 2025 sebagai pengakuan atas inovasi dan kontribusinya di tingkat internasional.
Selain mengembangkan riset, Riski memperkaya pengalaman profesional melalui berbagai peran, mulai dari asisten dosen, programmer, quality assurance, project manager, hingga editor pada sebelas jurnal ilmiah dan berbagai penerbitan buku akademik. Ia juga mengikuti program magang riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat kompetensi di bidang penelitian dan pengembangan teknologi.
Dalam bidang penelitian, ia dipercaya mengelola enam hibah penelitian dari berbagai skema pendanaan serta tiga program pendanaan sosial. Ia juga aktif menjadi pemakalah pada tiga konferensi internasional dan pembicara dalam tiga forum ilmiah. Seluruh capaian tersebut diraih dengan mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97.
Ketua Program Studi Magister Fisika Unesa, Nugrahani Primary Putri menuturkan, pencapaian mahasiswanya tersebut mencerminkan konsistensi dalam membangun budaya riset sejak masa perkuliahan.
"Kami sangat bangga. Keberhasilannya mempublikasikan banyak artikel pada jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional terindeks Scopus menunjukkan dedikasi, kerja keras, dan konsistensinya dalam melakukan penelitian. Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus aktif meneliti dan mempublikasikan hasil risetnya," ujarnya.
Ia melanjutkan, Program Magister Fisika terus membangun ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa berkembang sejak awal perkuliahan melalui penguatan budaya riset, pendampingan penulisan artikel ilmiah, serta kesempatan mengikuti seminar dan konferensi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.
Lebih dari itu, penguatan ekosistem tersebut diarahkan agar mahasiswa tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi yang dapat dihilirisasikan, berkolaborasi dengan berbagai pihak, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat maupun dunia industri. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam* ‘
Dokumentasi: Riski Ramadani






