
Unesa.ac.id., SURABAYA—Ritual Bersih Desa atau Sedekah Bumi yang identik dengan kehidupan agraris ternyata masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat perkotaan seperti Surabaya. Fenomena inilah yang diangkat Prof. Dr. Trisakti, M.Si, guru besar bidang kajian budaya Jawa Timur Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dalam orasi ilmiah pada pengukuhan profesor di Graha Sawunggaling, pada 29 Desember 2025 lalu.
Dalam orasinya, Trisakti menjelaskan bahwa masyarakat urban memiliki karakter yang khas, seperti kehidupan yang heterogen, mobilitas tinggi, aktivitas sosial yang kompleks, serta gaya hidup yang praktis dan kompetitif. Kondisi tersebut kerap mendorong munculnya sikap individualis yang berdampak pada menurunnya interaksi sosial dan aktivitas komunal warga.
Namun, di tengah kecenderungan tersebut, ia melihat adanya fenomena menarik, yakni bangkitnya kembali ritual bersih desa di kawasan perkotaan, khususnya di Kota Surabaya. Ritual yang sebelumnya dikenal sebagai tradisi sakral masyarakat desa kini hadir dengan wajah yang lebih terbuka dan performatif.
“Dalam pelaksanaannya, seni pertunjukan tradisional seperti ludruk, wayang kulit, ketoprak, campursari, hingga pawai budaya kembali mendapat ruang penting. Hal ini menunjukkan adanya upaya masyarakat urban untuk membangun kembali relasi sosial melalui aktivitas budaya bersama,” ujarnya.
Menurutnya, ritual bersih desa bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan praktik simbolik yang memuat nilai, identitas, dan solidaritas sosial. Melalui ritual tersebut, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menegosiasikan identitas budaya mereka di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Ia menambahkan, seni pertunjukan dalam ritual bersih desa memiliki fungsi sosial yang penting sebagai pengikat identitas kolektif dan penguat kebersamaan warga. Seni tidak semata diposisikan sebagai hiburan, melainkan sebagai media budaya yang merepresentasikan hubungan manusia dengan lingkungan sosial, alam, dan nilai-nilai spiritual.
“Ketika seni pertunjukan dimaknai secara reflektif dan partisipatif, ia dapat menjadi ruang dialog antara tradisi dan modernitas. Di situlah seni berperan sebagai media yang menghidupkan kembali kesadaran budaya masyarakat urban,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan di masyarakat perkotaan yang kerap menempatkan seni pertunjukan dalam ritual bersih desa hanya sebagai hiburan seremonial. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi mengurangi fungsi seni sebagai pengikat identitas dan solidaritas sosial.
“Tradisi bersih desa adalah bentuk ‘uri-uri’ budaya Jawa di ruang urban. Ia bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga hasil konstruksi simbolik yang terus hidup melalui seni pertunjukan dan praktik sosial masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap, kajiannya tersebut dapat menginspirasi untuk terus menggali kearifan lokal sebagai sumber nilai, memperkuat jati diri bangsa, dan membangun peradaban yang berkeadaban.][
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






