Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Gubes Unesa Bawa Best Practice Pendidikan Inklusif Indonesia ke Uzbekistan

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. TASHKENT— Dosen sekaligus guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sujarwanto, membawa best practice pendidikan inklusif Indonesia ke Uzbekistan melalui guest lecture di Uzbekistan State World Languages University (UzSWLU), Tashkent, pada Senin, 7 September 2026.

Dalam kuliah umum bertajuk “The Best Practice of Inclusive Education in Indonesia” tersebut, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan Khusus Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa itu memaparkan pengalaman, kebijakan, serta praktik pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia, termasuk di Unesa.

Sujarwanto menjelaskan bahwa pendidikan inklusif tidak sekadar memberikan akses pendidikan kepada peserta didik penyandang disabilitas. Lebih dari itu, pendidikan inklusif memastikan setiap peserta didik dapat belajar bersama, berpartisipasi, dan menjadi bagian dari lingkungan pendidikan tanpa diskriminasi.

Menurutnya, implementasi pendidikan inklusif perlu dibangun melalui tiga fondasi utama, yaitu budaya inklusif, kebijakan yang mendukung, dan praktik pembelajaran yang memastikan partisipasi seluruh peserta didik.

Dalam praktiknya di Indonesia, perkembangan kebijakan pendidikan inklusif didukung sejumlah regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas serta penguatan akomodasi yang layak dan Unit Layanan Disabilitas (ULD).

Namun, kebijakan tersebut perlu diikuti dengan penguatan berbagai aspek implementasi. Ia menyebut kapasitas pendidik, ketersediaan fasilitas yang aksesibel, dukungan keluarga, pendanaan, hingga koordinasi antarpemangku kepentingan masih menjadi faktor yang memengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Ia menekankan bahwa pendidikan inklusif harus memandang keberagaman sebagai bagian dari kehidupan manusia. Nilai bineka tunggal ika, menurutnya, dapat menjadi landasan budaya inklusif yang menempatkan setiap peserta didik sebagai bagian dari komunitas belajar yang sama.

Prinsip tersebut diwujudkan melalui penguatan rasa memiliki (belonging), penghormatan terhadap keberagaman, ekspektasi yang tinggi bagi seluruh peserta didik, keterlibatan peserta didik dalam proses pendidikan, serta kemitraan dengan keluarga dan masyarakat.

Dalam forum tersebut, ia juga memaparkan berbagai inovasi Unesa bidang disabilitas, mulai dari media pembelajaran, bahasa isyarat, hingga berbagai teknologi asistif. Selain pemaparan best practice. Unesa dan Uzbekistan State World Languages University (UzSWLU) mendiskusikan peluang kerja sama akademik yang berkelanjutan dan berdampak bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat. ][

***

Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq
Editor: @zam*

Foto: Tim Unesa