Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Edisi Haornas: Tubuh yang Kekurangan Gerak, Mengudang Risiko Penyakit Mematikan

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Duduk berjam-jam di depan komputer, berpindah tempat dengan kendaraan, kemudian menghabiskan waktu luang dengan gawai menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Tanpa disadari, rangkaian aktivitas tersebut membuat tubuh semakin sedikit bergerak.

Padahal, tubuh manusia membutuhkan gerak untuk menjaga berbagai fungsi tetap berjalan. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Irmantara Subagio, menjelaskan bahwa kebiasaan minim aktivitas fisik tidak hanya menurunkan kebugaran, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung hingga hipertensi dan stroke.

Berbagai penyakit tersebut dijuluki the silent killer, dapat membunuh diam-diam atau secara mendadak. Akibat jarang gerak, tubuh bisa saja tidak menunjukkan gejala yang mencurigakan, tetapi berisiko mendatangkan berbagai penyakit yang bisa merenggut nyawa.

“Secara biologis, tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Ketika tubuh berada dalam kondisi tidak aktif secara terus-menerus, terjadi gangguan pada berbagai sistem tubuh,” jelasnya.

Mulai Sekarang, Jangan Tunggu Besok

Ia menambahkan, banyak penyelesan secara medis soal ini. Untuk itu, gaya hidup yang jarang gerak, perlu mulai diubah dengan mulai menggunakan waktu untuk bergerak. Bisa dengan berolahraga atau beraktivitas fisik. 

Persoalan minim gerak, menurut Irmantara, harus mulai diperhatikan sejak sekarang. Jangan menunggu ada gejala, jangan menunggu dewasa atau menunggu usia lanjut. Bagi yang sekarang di usia pertumbuhan, mulailah bangun kebisaan aktif atau aktivitas fisik, karena membantu memperkuat tulang dan otot.

Selain itu, dapat mendukung perkembangan sistem saraf dan kemampuan motorik, serta melatih koordinasi gerak dan kebugaran. Pada saat yang sama, kebiasaan aktif yang dibangun sejak dini menjadi fondasi gaya hidup sehat di masa berikutnya.

Bagi yang sekarang usia muda atau usia produktif, aktivitas fisik atau kebisaan gerak dapat memperkuat otot, daya tahan jantung-paru, kebugaran, serta membangun kapasitas fisik sebagai modal memasuki usia produktif.

Juga dapat embantu mempertahankan kebugaran, mengendalikan berat badan, menjaga kesehatan jantung dan metabolisme, serta menurunkan risiko penyakit kronis.

Bagi yang sekarang di usia lanjut, pun harus banyak gerak. Karena, dapat membantu mempertahankan kekuatan, mobilitas, keseimbangan, fungsi kognitif, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Gerak Tidak Harus Olahraga Berat

Membangun kebiasaan aktif tidak selalu berarti harus melakukan olahraga berat atau menghabiskan waktu di pusat kebugaran. Menurut Irmantara, gerakan sederhana yang dilakukan secara rutin juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan.

Karena itu, masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Salah satunya dengan berdiri atau berjalan selama 2–3 menit setelah duduk selama 45–60 menit di tempat kerja.

Aktivitas fisik dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat atau bersepeda, juga dianjurkan setiap minggu. Gerak dapat ditambahkan melalui aktivitas yang sederhana, seperti menggunakan tangga, berjalan saat menelepon, atau memarkir kendaraan sedikit lebih jauh dari tujuan.

“Gerakan sederhana yang dilakukan secara konsisten tetap memberikan dampak bagi tubuh. Kegiatan tersebut dapat dikombinasikan dengan latihan penguatan otot atau latihan di pusat kebugaran,” pungkasnya.

Setelah memulai kebiasaan gerak, pola hidup sehat bisa terus dilanjutkan dengan memperhatikan aspek lain, seperti pola makan dan pola tidur. Perubahan besar kadang hanya butuh dengan mulai dari langkah kecil dan langkah sederhana, tapi dampaknya berarti bagi kesehatan. Mulai sekarang, jangan tunggu besok!][

***

Reporter: Fatimah Najmus Shofa

Editor: @zam*

Ilustrasi: Made with ChatGPT

Terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):