
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Budaya inklusif di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersiap diterapkan secara lebih menyeluruh melalui pembiasaan penggunaan salam bahasa isyarat pada berbagai agenda resmi universitas. Langkah ini menjadi bagian dari rangkaian program berkelanjutan yang dicanangkan untuk mempercepat pemahaman budaya Tuli serta menghargai keberagaman pola komunikasi di lingkungan pendidikan tinggi.
Rencana pembiasaan tersebut dirumuskan dalam pertemuan rutin Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unesa Sub-unit Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) pada Senin, 13 Juli 2026, bertempat di Ruang Rapat Lantai 10 Gedung Rektorat, Kampus II Lidah Wetan, Surabaya.
Agenda kali ini dikemas dalam bentuk Lokakarya Bahasa Isyarat untuk Semua dengan mengusung tema “Wujud Peran DWP Unesa sebagai Sahabat Kampus dan Mitra Penggerak Kampus Ramah Disabilitas”.
Ketua DWP Sub-unit FIP Unesa, Wiwik Widayanti Nursalim menjelaskan bahwa esensi dari lokakarya ini merupakan manifestasi nyata untuk memosisikan organisasi sebagai mitra proaktif dalam menjaga lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh mahasiswa berkebutuhan khusus.

www.unesa.ac.id
Dalam sesi materi, lokakarya menghadirkan Koordinator Program Studi S-1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Unesa, Khofidatur Rodiah yang mengupas klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) permanen termasuk disabilitas sensori, intelektual, emosi, sosial, fisik, motorik, hingga cerdas berbakat istimewa, guna memberikan pemahaman kepada anggota DWP mengenai cara berinteraksi yang tepat di lapangan.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung penggunaan bahasa isyarat dasar sistem BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang dipandu oleh mahasiswa disabilitas tunarungu.
Ketua DWP Unesa, Endah Purnomowati Nurhasan menegaskan bahwa peran sebagai "Sahabat Kampus" merupakan amanat berkesinambungan dari program pusat yang harus dieksekusi secara konkret.
Mengingat Unesa telah diakui secara nasional sebagai poros keunggulan di bidang disabilitas, seluruh anggota DWP dituntut menjadi penggerak utama dalam merangkul mahasiswa dari berbagai latar belakang kondisi.
“Sebagai representasi sosok ibu di lingkungan perguruan tinggi, anggota DWP berkomitmen untuk merangkul dan mendampingi seluruh mahasiswa,” harapnya.

www.unesa.ac.id
Kehadiran DWP diharapkan menjadi ruang aman; apabila ada yang sedang menghadapi masalah atau sekadar ingin berkeluh kesah, DWP harus hadir sebagai pendengar yang empatik, merangkul, dan mampu menjaga privasi mereka dengan baik.
Pihaknya juga menyoroti secara tajam mengenai etika penanganan interaksi langsung dengan mahasiswa difabel di area kampus. Anggota DWP diimbau untuk tidak mengedepankan asas iba yang keliru demi menjaga marwah dan martabat mahasiswa berkebutuhan khusus.
“Mahasiswa disabilitas butuh perhatian yang tulus, pendampingan tanpa syarat, dan kasih sayang yang autentik. Langkah nyata DWP ini tidak hanya akan meringankan beban mahasiswa, tetapi juga semakin mengukuhkan marwah Unesa sebagai kampus yang benar-benar ramah bagi semua,” tandasnya.
Sebagai langkah tindak lanjut jangka panjang, DWP Unesa juga merancang kelas bahasa isyarat bulanan, Sign Language Day di lingkungan kampus, lokakarya bersama komunitas tuli, hingga kampanye edukatif di media sosial. ][
***
Reporter: Tarisa Adistia (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: