Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Dukung Kemandirian Pangan, Guru Besar FKP Paparkan Strategi Akselerasi Populasi Sapi Lokal melalui Rekayasa Bioteknologi

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Dalam upaya mendukung kemandirian pangan nasional, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan protein hewani, pengembangan populasi hewan ternak lokal menjadi kebutuhan yang mendesak. Sektor peternakan memiliki peran strategis sebagai ujung tombak dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menghapus kelaparan dan meningkatkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Guru Besar Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Nur Ducha, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa pengembangan sapi lokal asli Indonesia merupakan kunci utama dalam pembangunan peternakan. Meski sapi lokal seperti sapi Bali, Madura, dan Peranakan Ongole (PO) memiliki karakteristik khas yang diminati pasar domestik, pertumbuhannya saat ini masih relatif lambat akibat manajemen pemeliharaan yang konvensional serta keterbatasan reproduksi alami.

Guna mengatasi hal tersebut, Nur Ducha menekankan pentingnya implementasi rekayasa bioteknologi reproduksi. Intervensi teknologi ini diperlukan karena proses reproduksi secara alami dinilai tidak lagi mencukupi untuk mengejar kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat. Bioteknologi reproduksi hadir sebagai solusi untuk melampaui hambatan biologis, mempercepat perbanyakan populasi, sekaligus menjadi instrumen penting dalam konservasi sumber daya hewan lokal.

Salah satu bentuk rekayasa bioteknologi yang paling strategis dan telah banyak diterapkan di Indonesia adalah Inseminasi Buatan (IB). Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan semen dari pejantan terpilih yang memiliki kualitas unggul, untuk kemudian diproses dan dimasukkan secara artifisial ke dalam saluran reproduksi betina pada waktu yang tepat.

“Inseminasi Buatan memungkinkan betina di berbagai wilayah diinseminasi oleh pejantan unggul secara genetik melalui semen yang disimpan pada suhu rendah. Hal ini secara signifikan meningkatkan intensitas seleksi pejantan sehingga mempercepat laju perolehan genetik unggul pada populasi ternak kita,” paparnya dalam pidato pengukuhan guru besar, pada 29 Desember 2025 lalu.

Dalam pelaksanaannya, keberhasilan IB sangat bergantung pada ketepatan penanganan semen pasca-penampungan. Ia menjelaskan bahwa sperma sangat rentan mengalami penurunan kualitas setelah dikeluarkan dari tubuh. Oleh karena itu, penggunaan media pengencer dan teknologi penyimpanan suhu rendah menjadi faktor penentu.

Semen unggul hasil penampungan dicampur dengan media pengencer, kemudian disimpan pada suhu 4-5°C atau pada suhu beku ekstrem -196°C di dalam tabung nitrogen cair agar kualitasnya terjaga dalam jangka panjang.

“Sebelum digunakan, semen tersebut harus melalui proses thawing atau 'dibangunkan' pada suhu 36-37°C selama beberapa detik guna menjaga viabilitasnya sebelum diinseminasikan,” jelas pakar biologi rekayasa reproduksi tersebut.

Melalui sentuhan teknologi reproduksi ini, Indonesia diharapkan mampu mengoptimalkan potensi biologis sapi lokal secara maksimal. Ia mendorong transformasi manajemen peternakan nasional agar lebih adaptif terhadap inovasi bioteknologi demi mencapai kedaulatan pangan.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menempatkan sapi nusantara sebagai tumpuan utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat secara berkelanjutan melalui penyediaan bibit ternak yang berkualitas dan kompetitif. ][

***

Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)

Editor: @zam*

Foto: Tim Humas Unesa