
Unesa.ac.id. SURABAYA— Delapan jam duduk di depan laptop untuk menulis sebuah lakon dengan tema yang baru diketahui saat perlombaan dimulai menjadi tantangan yang harus dihadapi Ahmad Rifqi Syihabuddin. Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu bukan kali pertama mencoba panggung Peksiminas.
Dua tahun sebelumnya, langkahnya terhenti pada babak seleksi. Pada Peksiminas XVIII 2026, ia kembali dengan persiapan yang lebih panjang dan akhirnya meraih juara pertama tangkai lomba Penulisan Lakon di Universitas Jember (Unej), pada 7–12 September 2026.
Kegagalan pada Peksiminas 2024 justru menjadi bagian penting dari proses Syihab mempersiapkan diri. Alih-alih berhenti, ia memperluas bacaan dan membangun kebiasaan menulis untuk menghadapi kesempatan berikutnya.
Salah satu tantangan dalam penulisan lakon adalah peserta tidak mengetahui tema yang akan diberikan sebelum perlombaan. Karena itu, Syihab tidak mempersiapkan satu cerita tertentu, tetapi memperkaya referensi agar memiliki bekal menghadapi berbagai kemungkinan isu.
“Saya membiasakan satu hari membaca satu naskah. Bisa naskah drama, karya sastra, atau tulisan yang membahas berbagai isu. Itu untuk memperkaya referensi,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut menjadi modal ketika mengikuti Peksiminas XVIII. Peserta baru menerima tema saat kompetisi dimulai dan harus menyelesaikan naskah dalam waktu delapan jam.
Syihab menyiapkan berbagai kemungkinan ide sebelum perlombaan. Ia membangun rencana utama sekaligus alternatif agar dapat segera menyesuaikan diri ketika tema diumumkan.
Bukan hanya pikiran yang dipersiapkan. Ketahanan fisik juga menjadi bagian dari latihan karena proses menulis berlangsung selama berjam-jam di depan layar. Syihab bahkan membiasakan diri menulis selama delapan jam agar tubuh dan pikirannya terbiasa dengan ritme perlombaan.
“Kalau tidak punya ketahanan duduk lama, pasti akan kesulitan. Jadi saya membiasakan diri supaya nanti saat lomba sudah terbiasa,” katanya.
Selama menulis, kebuntuan ide menjadi salah satu hambatan yang harus dihadapi. Ketika mulai jenuh, Syihab memilih mengambil jarak sejenak dari layar, membaca kembali tulisannya, kemudian melanjutkan proses kreatif.
Dalam Peksiminas XVIII, ia menulis naskah drama realis bertema keluarga. Cerita tersebut mengangkat persoalan dan konflik dalam hubungan antarmanusia di lingkungan keluarga, dengan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Delapan jam kemudian, naskah tersebut selesai. Syihab berhasil meraih juara pertama Penulisan Lakon setelah bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Bagi Syihab, capaian tersebut sekaligus menjadi hasil dari proses yang dimulai sejak kegagalan dua tahun sebelumnya. Ia ingin pengalaman tersebut berlanjut ke karya berikutnya, bukan berhenti pada kompetisi. “Target saya tentu terus menulis. Kalau ada kesempatan, saya ingin naskah yang saya buat bisa dipentaskan oleh teman-teman,” pungkasnya.][
***
Reporter: Puput
Editor: @zam*
Foto: Tim Peksiminas Unesa






