
Ilustrasi produk jasa boga, sektor yang jadi tulang punggung ekonomi masyarakat. (foto: freepik.com)
Unesa.ac.id., SURABAYA—UMKM jasa boga menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan masyarakat, khususnya di kota besar seperti Surabaya. Tercatat lebih dari 60 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bergerak di bidang penyediaan makanan dan minuman di Kota Pahlawan.
Pakar gizi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Aulia Putri Srie Wardani dalam penelitiannya yang berjudul ‘Survey Keamanan Pangan di Pujasera Unesa’ menjelaskan, pertumbuhan jumlah UMKM jasa boga berdampak positif pada perekonomian, karena tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dari berbagai lapisan.
Namun, di balik perkembangan tersebut, keamanan pangan harus menjadi perhatian bersama. Pangan yang tidak aman dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen, mengurangi kepercayaan publik, bahkan mengancam keberlangsungan usaha itu sendiri. Penerapan higiene dan sanitasi yang baik oleh penjamah makanan, mampu memberikan kualitas produk yang terjaga.
Di sisi lain, pelaku usaha berpeluang memperoleh keuntungan lebih besar, karena kepuasan pelanggan mendorong minat beli ulang. Sebaliknya, kelalaian dalam menjaga higiene dapat menurunkan mutu produk, mengurangi kepercayaan konsumen, dan berujung pada turunnya pendapatan.
Dosen gizi FIKK itu menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan di Pujasera Unesa menunjukkan, lebih dari separuh penjamah makanan (60 persen) memiliki tingkat pengetahuan yang tergolong tinggi tentang keamanan pangan. Namun, pada aspek penerapan, hasil Skor Keamanan Pangan (SKP) menunjukkan 62,5 persen masih berada dalam kategori ‘rawan, tapi aman dikonsumsi’.
Beberapa penelitian dari kafetaria institusi pendidikan tinggi lain di berbagai dunia juga melaporkan hasil yang sama, dimana pengetahuan penjaman makanan tidak selalu konsisten dengan praktek keamanan yang baik.
Aulia menyarankan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperkuat keamanan pangan di lingkungan jasa boga. Pertama, bagi penjamah makanan, penting untuk memperhatikan higiene pribadi saat mengolah makanan.
Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan atau penutup kepala, serta menghindari kebiasaan yang dapat menimbulkan kontaminasi, misalnya menyentuh makanan dengan tangan yang tidak bersih.
Kedua, institusi jasa boga disarankan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan makanan dengan menyediakan fasilitas dapur yang lebih memadai di setiap stan. Ketiga, kehadiran tempat sampah tertutup, menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk mencegah kontaminasi silang.
Tak kalah penting, perlu diadakan penyuluhan, pelatihan, serta pengecekan rutin terkait higiene dan sanitasi agar praktik keamanan pangan dapat dijaga secara berkelanjutan.
Saran dan hasil dari kegiatan penelitian ini tentu turut serta dalam mendukung 17 tujuan pembangunan global atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan ketiga, yaitu Good Health and Well-Being, dimana diharapkan dengan adanya perbaikan kemananan pangan, maka tingkat kesehatan mahasiswa, sitivas akademika, dan masyarakat pada umumnya dapat meningkat. ][
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: