
Unesa.ac.id. SURABAYA— Tidak semua titik balik hadir melalui peristiwa besar. Bagi Hifi Angellia Salma Andinie, perubahan justru berawal dari keberaniannya mengambil satu langkah sederhana: bergabung dengan SEDJIWA, komunitas konseling sebaya di bawah naungan Gugus Bimbingan dan Konseling Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Keputusan yang awalnya hanya bertujuan mencari pengalaman itu perlahan mengubah cara pandangnya terhadap manusia, karier, dan masa depan. Dari ruang tempat ia belajar mendengarkan cerita orang lain, Hifi Angellia menemukan ketertarikan yang semakin kuat pada dunia Human Resource (HR), rekrutmen, dan pengembangan sumber daya manusia.
Perjalanan itu pula yang mengantarkannya menutup masa studi sebagai wisudawan terbaik Fakultas Psikologi Unesa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90 pada gelaran wisuda ke-120 Unesa Juni lalu.
Mahasiswa asal Jombang tersebut mengaku sejak awal memilih Program Studi S-1 Psikologi karena memiliki ketertarikan memahami perilaku manusia. Baginya, mendengarkan cerita orang lain bukan sekadar bentuk empati, melainkan cara untuk memahami bagaimana seseorang berpikir, mengambil keputusan, hingga menghadapi tantangan hidup.
Di balik capaian akademiknya, terdapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Sang ayah yang berprofesi sebagai pedagang dan ibunya yang menjadi pendidik selalu berusaha memenuhi kebutuhan pendidikannya. Dukungan itu menjadi motivasi bagi Hifi untuk menuntaskan studi dengan predikat pujian.
Namun, perjalanan kuliahnya tidak selalu diwarnai aktivitas organisasi. Pada masa awal perkuliahan, ia mengaku lebih banyak menjalani rutinitas datang ke kampus, mengikuti kelas, lalu pulang. Hingga akhirnya ia memutuskan bergabung dengan SEDJIWA, sebuah keputusan yang kemudian menjadi titik balik selama menempuh pendidikan di Unesa.
Sebagai peer counselor dan community development staff, Hifi Angellia berinteraksi dengan beragam persoalan yang dihadapi mahasiswa. Pengalaman tersebut memperkaya cara pandangnya tentang pentingnya kemampuan memahami manusia, berkomunikasi, dan membangun empati. Dari sanalah ketertarikannya terhadap bidang pengembangan sumber daya manusia tumbuh semakin kuat.
Ketertarikan tersebut kemudian tercermin dalam skripsinya yang berjudul "Pengaruh Adaptabilitas Karier dan Dukungan Sosial terhadap Kecemasan Karier pada Mahasiswa Tingkat Akhir." Penelitian itu menunjukkan bahwa adaptabilitas karier maupun dukungan sosial sama-sama berperan dalam menurunkan kecemasan menghadapi dunia kerja. Namun, kemampuan beradaptasi memiliki pengaruh yang lebih besar.
Baginya, temuan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa dukungan dari lingkungan memang dibutuhkan, tetapi kesiapan menghadapi perubahan harus dibangun dari dalam diri. Adaptabilitas menjadi bekal utama bagi generasi muda untuk menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berkembang.
Ketertarikannya pada dunia HR tidak berhenti pada penelitian. Ia mengasah pengalaman profesional sebagai Content Writer Supervisor di Karsa Cita dengan terlibat dalam proses penyaringan lebih dari 200 curriculum vitae (CV) dan mewawancarai puluhan kandidat. Pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya mengenai proses rekrutmen dan pengembangan talenta.
Di sisi lain, Hifi Angellia juga mengembangkan jiwa kewirausahaan melalui Bleushoot, usaha penyewaan kamera dan iPad booth yang didirikannya sejak masih kuliah. Sebagai pendiri, ia mengelola berbagai aspek usaha, mulai dari operasional, administrasi, promosi, hingga membangun hubungan dengan pelanggan.
Selain aktif dalam organisasi dan dunia profesional, Hifi Angellia juga mencatatkan prestasi akademik sebagai Best Article Writer pada 7th National Conference of Young Psychology Researchers. Melalui penelitian mengenai hubungan budaya organisasi dan kepuasan kerja aparatur sipil negara (ASN) Generasi Z, ia menemukan bahwa budaya organisasi memiliki peran penting dalam membangun kepuasan kerja, bahkan melampaui anggapan bahwa generasi muda hanya mempertimbangkan fleksibilitas dan besaran penghasilan.
Menurutnya, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan sumber daya manusia tidak hanya berbicara tentang sistem rekrutmen, tetapi juga tentang bagaimana organisasi membangun budaya kerja yang sehat, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang adaptif, dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan individu.
Di tengah padatnya aktivitas akademik, organisasi, pekerjaan, dan bisnis, ia tetap menempatkan perkuliahan sebagai prioritas utama. Ia selalu menyusun skala prioritas agar setiap tanggung jawab dapat dijalankan secara seimbang.
Bagi Hifi Angellia, gelar wisudawan terbaik bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan hasil dari proses panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Dari seorang mahasiswa yang semula hanya menjalani rutinitas kuliah, ia tumbuh menjadi pribadi yang berani mengambil peran, belajar memahami orang lain, serta mempersiapkan diri menjadi bagian dari dunia pengembangan sumber daya manusia.
"SEDJIWA mengajarkan saya bahwa mendengarkan orang lain juga berarti belajar mengenal diri sendiri. Dari situlah saya mulai menemukan arah yang ingin saya tempuh setelah lulus," ujarnya. []
***
Reporter: Prismacintya
Editor: @zam*
Dokumentasi: Hifi Angellia






