
Program UICD menjadi bagian dari komitmen Unesa dalam memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah putas—daerah, praktisi, hingga mitra internasional untuk memberdayakan masyarakat desa.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus memperkokoh perannya dalam pembangunan berkelanjutan melalui peluncuran program Unesa International Community Development(UICD) 2026. Kegiatan yang didanai oleh LPDP melalui skema EQUITY ini dipusatkan di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, pada 5–7 Februari 2026 sebagai langkah konkret implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) berbasis potensi lokal.
Program ini menjadi ruang kolaborasi strategis yang mempertemukan akademisi, pemerintah daerah, praktisi, hingga mitra internasional untuk memberdayakan masyarakat desa. Fokus utama diarahkan pada penguatan sektor pertanian, peternakan, kewirausahaan, dan digitalisasi guna meningkatkan kapasitas ekonomi warga secara berkelanjutan.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, yang menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat adalah kunci dalam menekan angka kemiskinan (SDGs 1).
“Pemberdayaan tidak boleh berhenti pada bantuan sementara. Harus ada penguatan keterampilan, akses pasar, serta pengelolaan potensi lokal agar masyarakat mandiri secara ekonomi. Apa yang dilakukan Unesa di Bondowoso adalah model yang sejalan dengan target nasional,” ujar pria yang akrab disapa Gus Imin tersebut.

www.unesa.ac.id
Senada dengan hal itu, Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science CenterUnesa, Bambang Sigit Widodo, menyampaikan bahwa UICD dirancang sebagai program jangka panjang.
“Unesa berkomitmen untuk terus mengembangkan model pendampingan agar dampak sosial dan ekonominya benar-benar berakar di masyarakat,” ujar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa itu.
Ketua Penyelenggara UICD, Mufarrihul Hazin, menjelaskan bahwa masyarakat mendapatkan pendampingan teknis yang sangat aplikatif. Materi pelatihan meliputi pengelolaan pertanian berkelanjutan, transformasi limbah ternak menjadi kompos, hingga penguatan rantai pasok hasil perkebunan.
“Langkah ini adalah upaya kita memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pencapaian SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) melalui sistem pangan lokal yang tangguh,” jelasnya.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menyambut hangat pelaksanaan UICD di wilayahnya. Ia berharap kolaborasi ini memperkuat posisi Bondowoso sebagai daerah yang ramah terhadap pengembangan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, UICD 2026 menjadi praktik baik (best practice) implementasi berbagai poin SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, kesetaraan, hingga pertumbuhan ekonomi (SDGs 1, 2, 5, dan 8). Program ini sekaligus mempertegas identitas Unesa sebagai "kampus berdampak" yang menghadirkan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas.][
***
Penulis: Puput
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: